Dedi Mulyadi Turunkan Tim Hukum Usai Oknum Wartawan Ngamuk di SD Sukabumi

Intime – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengecam aksi seorang pria yang mengaku sebagai wartawan dan mengamuk di sebuah sekolah dasar (SD) di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Dedi menilai tindakan tersebut tidak mencerminkan profesionalisme seorang jurnalis.

Peristiwa itu terjadi saat para siswa tengah beraktivitas di lingkungan sekolah. Aksi pria tersebut kemudian menjadi perhatian karena dilakukan di area pendidikan yang semestinya aman bagi anak-anak.

“Saya melihat sebuah tayangan wartawan di Sukabumi mencak-mencak di sekolah dasar di Sukabumi di mana anak-anak di situ sedang bermain. Saya tidak tahu masalahnya apa, tapi tindakan itu tidak mencerminkan prinsip-prinsip yang dimiliki seorang jurnalis,” ujar Dedi dalam video di akun Instagram @dedimulyadi71, Selasa (1/9).

Dedi memastikan Pemprov Jawa Barat tidak tinggal diam. Tim hukum Pemprov Jabar akan diterjunkan untuk menginvestigasi peristiwa tersebut sekaligus memberikan advokasi kepada pihak sekolah.

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat hari ini akan meminta tim hukum untuk segera datang ke lokasi menginvestigasi dan kemudian melakukan advokasi agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi, agar lembaga pendidikan terjaga kredibilitasnya dan terbebas dari unsur intimidatif,” tegasnya.

Dedi menyadari pengelolaan pendidikan dasar merupakan kewenangan pemerintah kabupaten. Namun, dia menilai Pemprov Jabar tetap memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan lingkungan pendidikan di wilayahnya aman.

Di sisi lain, polisi masih mendalami kasus tersebut. Pria yang diduga melakukan aksi di sekolah itu masih diamankan di Polsek Sukaraja.

Kapolsek Sukaraja Kompol Aguk Khusaini mengatakan pemeriksaan terhadap yang bersangkutan belum dapat dilakukan secara maksimal karena diduga masih berada dalam pengaruh zat tertentu.

Polisi juga telah melakukan tes urine terhadap pria tersebut. Hasil pemeriksaan menggunakan alat dari BNK menunjukkan hasil positif amphetamine.

“Tadi sudah kita lakukan tes urine dengan alat dari BNK, dan hasilnya positif amphetamine,” ujar Aguk.

Amphetamine merupakan zat stimulan yang dapat memengaruhi sistem saraf dan perilaku seseorang. Meski demikian, polisi masih perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan seluruh rangkaian peristiwa.

Selain dugaan penyalahgunaan narkotika, polisi juga mendalami kemungkinan adanya tindak pidana lain. Salah satunya adalah dugaan pemerasan terhadap pihak sekolah.

Penyelidikan dilakukan untuk mengungkap motif kedatangan pria tersebut ke sekolah serta memastikan ada atau tidaknya pelanggaran hukum dalam kejadian tersebut.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini