Intime – Program penurunan berat badan tidak seharusnya hanya berfokus pada angka di timbangan. Dokter spesialis gizi klinik dr. Maryam, Sp.GK, mengingatkan bahwa keberhasilan diet perlu diukur dari perubahan komposisi tubuh, terutama penurunan lemak dengan tetap mempertahankan massa otot.
“Jangan sampai kita diet mati-matian, tapi pas diukur ternyata massa ototnya yang turun, sedangkan lemaknya cuma turun sedikit,” kata Maryam dalam Bamed Seminar Media bertajuk Comprehensive Aesthetic and Wellness: Integrated and Holistic Approach to Better Wellbeing di Jakarta, Kamis (18/6).
Menurut Maryam, obesitas pada dasarnya merupakan kondisi kelebihan lemak tubuh, bukan sekadar kelebihan berat badan. Karena itu, evaluasi komposisi tubuh menjadi penting untuk memastikan program diet berjalan efektif dan sehat.
Ia menjelaskan, seseorang bisa saja memiliki berat badan normal atau terlihat kurus, namun tetap memiliki kadar lemak tubuh tinggi atau yang dikenal dengan istilah skinny fat. Selain itu, keberhasilan pengelolaan berat badan juga dipengaruhi berbagai faktor seperti metabolisme, hormon, tingkat stres, dan kualitas tidur.
Maryam menekankan bahwa salah satu risiko dalam proses diet adalah hilangnya massa otot. Padahal, massa otot berperan penting dalam menjaga metabolisme tubuh dalam jangka panjang.
Karena itu, masyarakat disarankan tidak hanya mengejar penurunan berat badan, tetapi juga memperhatikan komposisi tubuh agar hasil yang diperoleh dapat mendukung kesehatan secara berkelanjutan.


