Dorong Pelayanan Air 100%, Komut PAM Jaya Ajak Dialog Terbuka dan Kolaboratif

Intime – Komitmen untuk menghadirkan layanan air perpipaan yang merata di Jakarta terus digaungkan. Komisaris Utama PAM Jaya, Prasetyo Edi Marsudi, menyatakan pentingnya membangun budaya diskusi terbuka sebagai bagian dari upaya mempercepat peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Saya terbuka untuk diskusi, ruangan saya selalu terbuka. Jangan sungkan. Dari diskusi, kita saling belajar dan berbagi pengalaman, jangan merasa paling tahu sendiri,” ujarnya di Buaran, Jakarta Timur, (24/4).

Menurutnya, keterbukaan dalam berdialog menjadi kunci untuk menciptakan solusi yang lebih efektif dan adaptif di tengah berbagai tantangan pelayanan air di ibu kota.

Ia menekankan bahwa setiap pihak perlu mengedepankan kolaborasi dan menghindari sikap eksklusif dalam pengambilan keputusan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa semangat bersama harus diarahkan pada satu tujuan besar, yakni mewujudkan cakupan pelayanan air perpipaan hingga 100 persen pada tahun 2029. Target tersebut dinilai membutuhkan kerja kolektif, inovasi, serta komitmen kuat dari seluruh elemen organisasi.

“Pelayanan harus total. Kita ingin memastikan masyarakat mendapatkan akses air bersih yang layak secara merata,” tambahnya.

Dalam menghadapi berbagai tantangan teknis dan non-teknis, pendekatan solutif juga menjadi perhatian utama. Ia mengibaratkan upaya perbaikan pelayanan seperti “mengurai yang kaku menjadi lentur”, di mana setiap hambatan harus direspons dengan fleksibilitas dan inovasi.

Dengan semangat kolaborasi dan keterbukaan, diharapkan target ambisius tersebut dapat tercapai, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jakarta melalui akses air bersih yang lebih baik.

Dia menambahkan, peran change agent di lingkungan PAM JAYA bukan sekadar simbol, melainkan motor penggerak perubahan yang nyata dan berdampak.

“Visi besar perusahaan dengan aksi yang terukur di lapangan. Transformasi tidak akan berjalan tanpa kontribusi aktif dari para agen perubahan,” ucapnya.

“Change agent bukan sekadar simbol, tapi penggerak nyata. Kita selaraskan visi dengan aksi yang terukur dan berdampak,” sambungnya.

Lebih lanjut, konsistensi disebut sebagai faktor kunci dalam memastikan keberlanjutan perubahan. Tanpa konsistensi, berbagai program dan inisiatif dinilai tidak akan memberikan hasil optimal.

“Konsistensi adalah kunci. Karena masa depan PAM JAYA ditentukan oleh komitmen kita hari ini,” tambahnya di hadapan para Insan PAManah yang mengikuti pelatihan tersebut.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini