Golkar Usul Pileg Digelar Lebih Dulu, Hasilnya Jadi Tiket Pencalonan Pilpres

Intime – Waketum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia mengusulkan pemilihan legislatif (Pileg) digelar lebih dulu sebelum pemilihan presiden (Pilpres). Hasil Pileg pada tahun yang sama nantinya digunakan sebagai “tiket” untuk mencalonkan pasangan capres-cawapres.

Doli mengatakan usulan tersebut menjadi bagian dari pandangan Golkar mengenai desain pemilu ke depan. Menurutnya, Pileg, Pilpres, dan Pilkada sebaiknya tidak digelar secara bersamaan.

“Ya kita sudah punya pengalaman seperti Pemilu 2024, Pileg dulu, kemudian Pilpres, baru Pilkada. Hasil Pileg di tahun itulah yang akan menjadi ticket pencalonan Pilpres,” ujar Doli dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (22/9/2026).

Anggota Komisi II DPR itu menjelaskan pemisahan Pileg dan Pilpres penting karena hasil Pileg dapat menjadi dasar pencalonan presiden.

Doli menilai penggunaan hasil Pileg lima tahun sebelumnya sebagai tiket pencalonan Pilpres bisa menimbulkan persoalan. Sebab, pilihan politik masyarakat dapat berubah dalam kurun waktu lima tahun.

“Khusus untuk Pilpres dan Pileg yang selama beberapa Pemilu terakhir selalu diserentakkan, juga akan dapat mengurangi legitimasinya,” katanya.

Menurut Doli, dukungan masyarakat kepada partai politik belum tentu sama dengan dukungan terhadap calon presiden dan wakil presiden ketika pemilu digelar lima tahun kemudian.

“Tentu sangat dimungkinkan terjadinya perbedaan aspirasi politik dalam kurun waktu lima tahun itu,” ujarnya.

Doli juga menyebut pemisahan Pileg, Pilpres, dan Pilkada dapat membuat masyarakat lebih fokus menentukan pilihan. Pemilih bisa lebih leluasa mengenal calon, menilai karakter, isu, visi, dan misi masing-masing.

“Sehingga masyarakat dapat berkonsentrasi terhadap pilihannya pada setiap jenis pemilihan,” tutur Doli.

Selain itu, pemisahan pemilu dinilai dapat mencegah isu dari satu kontestasi menenggelamkan isu pemilihan lainnya. Pemilih pun memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenal calon sebelum menentukan pilihan.

Doli menyebut pemisahan tiga jenis pemilu juga berdampak pada teknis penyelenggaraan. Beban kerja penyelenggara pemilu dinilai dapat lebih ringan jika setiap pemilihan digelar secara terpisah.

“Ketiga, dari aspek teknis, kalau ketiga jenis Pemilu dipisah dan diselenggarakan masing-masing, tentu akan lebih meringankan beban kerja penyelenggara Pemilu,” kata Doli.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini