IHSG Anjlok Hampir 4 Persen, Sentimen Global dan Kekhawatiran Suku Bunga Tekan Pasar

Intime – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Senin (8/6) dengan tekanan kuat. Pelemahan dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang membuat pelaku pasar cenderung mengurangi risiko investasi.

IHSG dibuka turun 108,46 poin atau 1,94 persen ke level 5.486,31. Tekanan jual berlanjut hingga indeks melemah 222,29 poin atau 3,99 persen ke posisi 5.371,78 pada pukul 09.15 WIB.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan investor masih disarankan berhati-hati dalam mengambil posisi di pasar saham.

“Kiwoom Research masih menyarankan untuk kembali memperbanyak wait and see sebelum mengambil posisi beli atau average down,” ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin (8/6)

Dari faktor eksternal, perhatian pasar kini beralih dari harapan pemangkasan suku bunga ke kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve.

Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan menjadi pemicu utama. Nonfarm Payrolls Mei 2026 tercatat bertambah 172.000 pekerjaan, jauh melampaui ekspektasi pasar sebesar 85.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran juga bertahan di level 4,3 persen.

Kondisi tersebut memperkuat keyakinan bahwa inflasi AS masih berpotensi bertahan tinggi. Akibatnya, Ketua The Fed Kevin Warsh diperkirakan dapat mengambil sikap yang lebih agresif atau hawkish dalam menentukan kebijakan moneter.

Selain itu, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya negosiasi antara AS dan Iran serta respons Israel setelah serangan rudal Iran ke pangkalan udara Ramat David.

Menurut Liza, perkembangan di kawasan Selat Hormuz akan menjadi faktor penting yang memengaruhi harga minyak dunia, inflasi global, dan arah kebijakan suku bunga.

Dari dalam negeri, pemerintah dan Bank Indonesia menegaskan fokus kebijakan saat ini adalah meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik melalui imbal hasil yang lebih kompetitif pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Langkah tersebut diharapkan mampu menarik kembali aliran dana asing, memperkuat nilai tukar rupiah, dan menjaga stabilitas pasar keuangan nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini