Intime – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (11/6). Pelemahan terjadi di tengah aksi ambil untung yang dilakukan investor serta meningkatnya kekhawatiran terhadap tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
IHSG ditutup turun 16,35 poin atau 0,28 persen ke level 5.886,03. Sementara indeks saham unggulan LQ45 ikut terkoreksi 2,64 poin atau 0,45 persen ke posisi 586,84.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan, tekanan terhadap pasar saham domestik dipicu kombinasi sentimen eksternal dan aksi profit taking setelah IHSG menguat signifikan dalam dua hari perdagangan sebelumnya.
“IHSG ditutup melemah di tengah profit taking dan sentimen eksternal,” kata Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko seiring koreksi tajam yang terjadi di Wall Street, Amerika Serikat. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen pasar.
Meski demikian, tekanan terhadap IHSG mulai berkurang pada sesi kedua perdagangan. Hal itu terjadi setelah muncul laporan bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran telah selesai dan harga minyak dunia mulai mengalami pelemahan.
Sentimen positif lainnya datang dari dalam negeri, yakni rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ratna memperkirakan IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan pada perdagangan berikutnya dengan menguji area 5.900 hingga 5.950.
“Sehingga, diperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan dengan menguji level 5.900-5.950,” ujarnya.
Pelaku pasar juga menantikan sejumlah agenda penting pekan depan, mulai dari keputusan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17 Juni 2026.
Sementara dari dalam negeri, investor menunggu pengumuman MSCI Accessibility Review pada 18 Juni serta keputusan suku bunga Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 18-19 Juni.
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, sektor properti menjadi penopang penguatan terbesar dengan kenaikan 0,74 persen. Disusul sektor keuangan dan kesehatan yang masing-masing menguat 0,64 persen dan 0,56 persen.
Sebaliknya, sektor barang baku mencatat pelemahan terdalam sebesar 4,27 persen, diikuti sektor energi yang turun 2,01 persen serta sektor transportasi dan logistik yang terkoreksi 1,43 persen.

