Intime – Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat perekonomian ibu kota mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month to month) pada April 2026. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 1,12 persen.
Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, menjelaskan bahwa inflasi tersebut didominasi oleh kenaikan indeks harga pada kelompok transportasi yang mencapai 1,46 persen dengan andil 0,19 persen.
“Inflasi April 2026 di Jakarta secara bulanan didominasi peningkatan indeks harga pada kelompok transportasi,” ujarnya, di Jakarta Senin (4/5).
Ia merinci, komoditas utama penyumbang inflasi pada sektor ini adalah tarif angkutan udara dan bensin, masing-masing dengan andil 0,15 persen dan 0,04 persen. Kenaikan tarif pesawat dipicu oleh naiknya harga avtur serta normalisasi tarif usai periode diskon Lebaran.
Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada 18 April turut mendorong inflasi. Komoditas ini tercatat mengalami inflasi bulanan sebesar 0,73 persen dengan kontribusi 0,04 persen terhadap inflasi Jakarta.
Kelompok penyediaan makan dan minum atau restoran juga memberikan andil inflasi sebesar 0,09 persen. Kenaikan harga ayam goreng menjadi salah satu penyebab, dipicu oleh naiknya harga bahan baku seperti minyak goreng, tepung terigu, hingga plastik pembungkus.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mengalami deflasi yang membantu menahan laju inflasi, di antaranya daging ayam ras, emas perhiasan, cabai rawit, angkutan antarkota, serta telur ayam ras.
Kadarmanto menambahkan, inflasi April cenderung lebih rendah karena merupakan periode pascalebaran, saat harga-harga mulai kembali normal setelah sebelumnya meningkat akibat tingginya permintaan selama Ramadan dan Lebaran.
“Inflasi pascalebaran umumnya lebih rendah karena adanya penyesuaian harga, sehingga turut menahan laju inflasi pada April,” pungkasnya.

