Intime – Jumlah penduduk Indonesia terus bertambah dan kini telah mencapai 290.125.073 jiwa pada Semester I 2026. Di balik peningkatan tersebut, pemerintah melihat peluang besar karena hampir tujuh dari sepuluh penduduk berada pada usia produktif, menjadi modal penting untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Data tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, Teguh Setyabudi, dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kependudukan dan Pencatatan Sipil 2026.
“Jumlah penduduk Indonesia mencapai 290.125.073 jiwa, meningkat 1.809.984 jiwa dibandingkan Semester II 2025 yang berjumlah 288.315.089 jiwa,” kata Teguh.
Dari total penduduk tersebut, sebanyak 146,40 juta jiwa atau 50,46 persen merupakan laki-laki, sedangkan 143,72 juta jiwa atau 49,54 persen adalah perempuan.
Teguh menegaskan, data kependudukan bukan sekadar statistik, melainkan menjadi dasar penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.
“Di balik setiap angka terdapat gambaran nyata mengenai kondisi bangsa sekaligus dasar dalam menyusun kebijakan pembangunan nasional,” ujarnya.
Berdasarkan Data Kependudukan Bersih Semester I 2026, Indonesia masih menikmati bonus demografi. Penduduk usia produktif 15–64 tahun mencapai 201.060.449 jiwa atau 69,30 persen dari total populasi. Sementara kelompok usia 0–14 tahun berjumlah 65,96 juta jiwa dan penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai 23,10 juta jiwa.
Menurut Teguh, komposisi tersebut menjadi peluang strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
“Bonus demografi merupakan modal utama menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan. Pemerintah perlu memastikan penduduk usia produktif memperoleh pendidikan yang berkualitas, keterampilan yang sesuai kebutuhan industri, layanan kesehatan yang memadai, serta kesempatan kerja yang luas.
“Jika dikelola dengan baik, bonus demografi akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, tanpa kebijakan yang tepat, kondisi ini dapat berubah menjadi tantangan sosial dan ekonomi,” pungkasnya.

