Jakarta Matangkan Langkah Jadi Tuan Rumah Muktamar NU ke-35, PBNU Turun Survei Lokasi

Intime – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta mulai mematangkan persiapan sebagai calon tuan rumah Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Tim survei dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turun langsung meninjau sejumlah lokasi strategis di ibu kota.

Ketua PWNU DKI Jakarta KH Samsul Ma’arif mendampingi tim survei PBNU yang terdiri dari KH Fahmi dan Gus Silahuddin saat meninjau kawasan Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur.

Dalam survei tersebut, rombongan mengecek kesiapan lokasi utama muktamar, akses transportasi, akomodasi peserta, hingga dukungan infrastruktur penunjang.

“Jakarta siap dari sisi infrastruktur maupun pelayanan. Yang sedang kami matangkan adalah sinergi seluruh elemen NU agar muktamar nanti berjalan khidmat dan nyaman,” kata KH Samsul Ma’ari, di Pondok Pesantren Al Hamid, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (24/5).

Infrastruktur Jakarta Dinilai Jadi Keunggulan

PWNU DKI Jakarta menawarkan konsep muktamar yang memadukan kekuatan kota metropolitan dengan tradisi pesantren. Dalam dokumen kesiapan panitia lokal, Pondok Pesantren Al Hamid disebut memiliki posisi geostrategis yang dinilai ideal untuk pelaksanaan muktamar.

Lokasi tersebut berada dekat pusat pemerintahan, jaringan tol nasional, serta simpul transportasi utama. Selain itu, kawasan Cilangkap dinilai lebih kondusif dibanding kawasan pusat kota Jakarta.

Akses menuju lokasi juga menjadi nilai tambah. Kawasan Al Hamid terhubung dengan Tol Jagorawi, JORR, Tol Dalam Kota, hingga Tol Cikampek Elevated.

“Kalau bicara aksesibilitas, Jakarta memang punya keunggulan. Peserta dari daerah maupun luar negeri akan lebih mudah menjangkau lokasi,” ujar KH Fahmi dari tim survei PBNU.

Muktamar Harus Tetap Bernuansa Pesantren

KH Samsul Ma’arif menegaskan Muktamar NU bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum kebudayaan dan silaturahmi warga nahdliyin dari seluruh Indonesia.

Menurutnya, lokasi muktamar tidak cukup hanya luas secara fisik, tetapi juga harus memiliki ruh pesantren dan tradisi keilmuan NU yang kuat.

“NU ini lahir dari pesantren. Maka suasana pesantren harus tetap terasa meski muktamar digelar di kota metropolitan,” ujarnya.

Dalam dokumen kesiapan panitia, lokasi ideal muktamar disebut harus memiliki ruh pesantren, sanad keilmuan, kapasitas akomodasi besar, akses mudah, hingga resonansi nasional yang kuat.

PBNU Nilai Kesiapan Teknis dan SDM

Selain meninjau infrastruktur, tim survei PBNU juga melihat kesiapan sumber daya manusia dan dukungan organisasi NU di Jakarta.

Gus Silahuddin menyebut antusiasme warga NU Jakarta cukup tinggi menyambut kemungkinan ibu kota menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35.

“Kami melihat kesiapan panitia lokal, dukungan pesantren, sampai mobilitas peserta. Jakarta punya modal kuat,” katanya.

PWNU DKI Jakarta kini mulai membangun koordinasi dengan pengurus cabang, badan otonom, relawan muda NU, hingga jaringan pesantren di Jakarta dan sekitarnya.

Muktamar NU ke-35 diperkirakan akan dihadiri ribuan peserta dari seluruh Indonesia serta sejumlah tamu internasional. Hingga kini, PBNU masih melakukan rangkaian survei sebelum menentukan lokasi final pelaksanaan muktamar.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -
- Advertisement -spot_img