Komisi IX DPR: Koreksi IHSG dan Pelemahan Rupiah Sinyal yang Tak Boleh Diabaikan

Intime – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir yang diikuti merosotnya nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi sorotan Komisi XI DPR RI. Anggota Komisi XI DPR RI, Amin Ak, meminta pemerintah tidak menganggap kondisi tersebut sebagai gejolak biasa.

Menurut Amin, pergerakan pasar saat ini merupakan sinyal yang harus dibaca secara serius karena berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

“IHSG yang terkoreksi tajam dalam beberapa hari terakhir dan pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS merupakan sinyal yang perlu dicermati secara serius. Pemerintah tidak boleh menganggap ini sebagai gejolak biasa, tetapi harus membaca secara utuh pesan yang sedang disampaikan pasar,” kata Amin dalam keterangannya, Minggu (7/6).

Politikus PKS itu mengakui tekanan global, mulai dari ketegangan geopolitik, penguatan dolar AS, hingga volatilitas pasar internasional, turut memengaruhi pasar keuangan Indonesia. Namun demikian, menurutnya pemerintah tetap harus fokus memperkuat faktor domestik untuk menjaga optimisme investor.

Amin menilai pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi dan tingkat kepercayaan. Karena itu, stabilitas ekonomi dan kepastian arah kebijakan harus terus dijaga.

“Kepercayaan investor adalah aset yang sangat berharga. Ketika pasar melihat adanya ketidakpastian, baik terkait arah kebijakan maupun kondisi ekonomi ke depan, maka respons yang muncul biasanya berupa aksi jual dan perpindahan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman,” ujarnya.

Ia mengapresiasi langkah pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menjaga stabilitas pasar. Meski demikian, Amin menilai upaya tersebut perlu diperkuat melalui komunikasi kebijakan yang lebih konsisten dan respons cepat terhadap dinamika pasar.

Menurut dia, fundamental ekonomi yang baik harus mampu diterjemahkan menjadi keyakinan pasar. Sebab, persepsi pelaku pasar memiliki pengaruh besar terhadap arus investasi.

Selain itu, Amin juga mengingatkan pelemahan rupiah yang telah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS berpotensi memberikan dampak terhadap sektor riil apabila berlangsung dalam waktu lama.

“Nilai tukar rupiah harus menjadi perhatian khusus. Kita memahami ada faktor global yang kuat, tetapi pemerintah bersama otoritas moneter perlu memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga agar tidak menimbulkan efek lanjutan terhadap sektor riil dan aktivitas ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Amin berharap pemerintah memperkuat koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia juga mendorong peningkatan transparansi kebijakan serta penguatan iklim investasi guna menarik kembali arus modal ke pasar domestik.

“Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan kebijakan yang tepat, saya yakin Indonesia mampu melewati fase tekanan ini dengan baik,” katanya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini