spot_img

Konferensi Republik Usung Tiga Model Kepemimpinan untuk Perkuat Konsolidasi Masyarakat Sipil

Intime — Konferensi Republik mengusulkan tiga model kepemimpinan sebagai fondasi konsolidasi organisasi masyarakat sipil agar mampu menjadi salah satu pilar penting republik. Tiga model tersebut meliputi kepemimpinan yang institusional, kolektif, dan intrinsik, yang menjadi salah satu hasil utama forum konsolidasi nasional yang tetap berlangsung meski lokasi penyelenggaraannya dibatalkan sehari sebelum acara.

Forum kemudian digelar dalam format hybrid, yakni secara daring dan luring terbatas. Lebih dari 200 peserta mengikuti kegiatan secara daring hingga selesai, sementara lebih dari 100 peserta hadir langsung di lokasi.

Ketua Umum Konferensi Republik, Sudirman Said, mengatakan ketiga model kepemimpinan tersebut dirancang sebagai dasar untuk menata gerakan masyarakat sipil yang selama ini tersebar dan beragam.

Menurutnya, keberagaman organisasi masyarakat sipil tidak dapat disatukan melalui figur atau lembaga tunggal, melainkan harus bertumpu pada kelembagaan yang kuat, kepemimpinan kolektif, serta nilai-nilai bersama.

“Ini untuk mengingatkan bahwa republik ini bukan milik perseorangan,” ujar Sudirman, Minggu (28/6).

Karena itu, Konferensi Republik dibangun sebagai sebuah jejaring yang menghubungkan berbagai kelompok tanpa menempatkan salah satunya sebagai pusat kekuasaan.

Sekretaris Jenderal Konferensi Republik, Yanuar Nugroho, menegaskan konsep tersebut juga menjadi penanda terhadap model kepemimpinan yang ingin ditinggalkan.

“Ini bukan tentang siapa, tetapi tentang bagaimana,” kata Yanuar.

Ia menilai publik terlalu lama disuguhi pola kepemimpinan yang pragmatis, egosentris, dan bertumpu pada popularitas individu. Melalui Konferensi Republik, masyarakat sipil ingin menghadirkan alternatif yang mengembalikan warga negara sebagai subjek pembangunan.

“Tujuannya mengembalikan warga negara menjadi subjek, bukan objek,” ujarnya.

Sudirman juga mengapresiasi antusiasme peserta yang tetap tinggi meski forum sempat menghadapi dinamika akibat pembatalan lokasi acara. Menurutnya, semangat kolektif justru semakin terlihat karena forum tetap berjalan secara partisipatif.

Wakil Ketua Umum Konferensi Republik, Jaleswari Pramodhawardhani, menyebut pembatalan lokasi tidak menyurutkan optimisme peserta.

“Hari ini republik tanpa warga begitu terasa,” katanya.

Menurut Jaleswari, ruang diskusi sengaja dibuka secara terbuka agar berbagai gagasan dapat dipertemukan, disusun bersama, lalu diterjemahkan menjadi aksi nyata.

“Bukan cuma antusiasme, tetapi betapa kita mencintai Indonesia,” ujarnya.

Selain merumuskan tiga model kepemimpinan, forum juga menyepakati pembentukan platform bersama dan desain organisasi berbasis jejaring. Yanuar menjelaskan, platform tersebut menjadi sarana menyatukan berbagai kelompok dengan latar belakang berbeda, sementara model jejaring memungkinkan setiap pihak tetap mandiri namun bergerak menuju tujuan yang sama.

Ia menilai keresahan yang sama saat ini dirasakan oleh mahasiswa, profesional, hingga anak muda, sehingga diperlukan ruang yang mampu menghubungkan mereka.

“Anda tidak sendirian,” katanya.

Penyelenggara menilai ketiga model kepemimpinan, platform bersama, dan desain jejaring tersebut merupakan jalan tengah untuk memperkuat konsolidasi masyarakat sipil yang selama ini berada di antara kecenderungan organisasi yang terpusat dan gerakan yang tumbuh secara otonom. Melalui pendekatan tersebut, setiap kelompok diharapkan tetap dapat menjaga independensinya tanpa kehilangan tujuan bersama dalam memperkuat republik.

Sudirman juga memberikan apresiasi kepada para relawan muda yang menjadi motor utama penyelenggaraan forum. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak akan terlaksana tanpa kerja sukarela mereka yang tetap bergerak meski lokasi acara dibatalkan pada saat-saat terakhir.

Ia menilai semangat para relawan menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang institusional, kolektif, dan intrinsik bukan sekadar konsep, melainkan telah dipraktikkan secara nyata.

Sementara itu, Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia unsur mahasiswa, Razaan Bayu Rachman, berharap Konferensi Republik menjadi inspirasi lahirnya ruang-ruang intelektual serupa yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat sipil.

“Kita punya tujuan yang sama, dan kita butuh wacana perubahan yang lebih konkret lagi,” ujarnya.

Forum juga menerima usulan komposisi formatur yang akan menyusun kepengurusan organisasi. Selain Sudirman Said, Jaleswari Pramodhawardhani, dan Yanuar Nugroho, sebanyak 17 nama lainnya diajukan sebagai formatur.

Sudirman mengatakan para formatur akan segera menggelar rapat untuk menyusun kepengurusan awal yang bersifat dinamis dan akan terus berkembang seiring bertambahnya jejaring organisasi.

Ke depan, Konferensi Republik direncanakan digelar secara bergilir di sejumlah kota yang telah menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah. Penyelenggara berharap forum ini menjadi ruang publik yang berkelanjutan untuk memperkuat peran masyarakat sipil, sekaligus menempatkan kembali warga negara sebagai subjek dalam menentukan arah perjalanan republik melalui kepemimpinan yang institusional, kolektif, dan intrinsik.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini