Intime – Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri mengaku tak kuasa menahan tangis usai menonton film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film tersebut disebut membuka mata soal kerusakan hutan, ekspansi sawit, hingga nasib masyarakat adat yang makin tersisih akibat eksploitasi sumber daya alam.
Pernyataan itu disampaikan Megawati saat menghadiri forum National Policy Dialogue bertema kedaulatan kelautan di Universitas Gadjah Mada, Jumat (22/5).
Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional itu menilai pembangunan selama ini terlalu berorientasi pada eksploitasi alam tanpa memikirkan keberlanjutan lingkungan maupun hak masyarakat adat.
“Saya kemarin menangis ketika melihat film Pesta Babi. Itu benar adanya. Sudah seberapa banyak hutan hanya dijadikan tanaman sawit. Di sana ada tradisi adat, ada hukum adat, ada hukum wilayah. Mereka minta dihargai, apakah salah?” kata Megawati.
Megawati menegaskan pembangunan nasional tidak boleh mengorbankan masyarakat lokal yang selama ini hidup berdampingan dengan alam. Menurutnya, kerusakan lingkungan akibat alih fungsi hutan dapat menjadi ancaman serius bagi masa depan Indonesia.
Selain menyinggung isu lingkungan, Megawati juga mengingatkan pentingnya memperkuat identitas Indonesia sebagai bangsa maritim.
Ia menilai kedaulatan maritim tidak cukup hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya, tetapi harus diperkuat melalui riset, inovasi, dan penguasaan ilmu pengetahuan.
Megawati juga meminta perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI) terhadap kekayaan hayati Indonesia agar tidak mudah diklaim negara lain. Menurutnya, Indonesia harus mandiri dalam mengelola sumber daya alam demi pembangunan berkelanjutan.

