OJK Catat Kredit Paylater Perbankan Capai Rp 31,50 Triliun per September 2026

Intime – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pembiayaan buy now pay later (BNPL) atau paylater perbankan menembus angka Rp 31,50 triliun hingga akhir September 2026. Pertumbuhan pembiayaan konsumtif berbasis digital ini tercatat naik 26,68 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan bahwa meskipun tumbuh secara eksponensial, laju ekspansi paylater perbankan ini sedikit melambat apabila dibandingkan dengan performa pada Agustus 2026 yang sempat menembus angka 29,10 persen.

“Nilai tersebut tumbuh 26,68 persen secara tahunan (year on year/yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2026 sebesar 29,10 persen,” ujar Dian dalam konferensi pers OJK, Jumat (6/11).

Secara bulanan, penyaluran paylater perbankan tumbuh tipis 0,27 persen. Adapun volume basis pelanggan BNPL terus meluas, ditandai dengan kenaikan jumlah rekening aktif dari 34 juta unit pada Agustus 2026 menjadi 34,5 juta rekening pada September 2026.

Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) industri perbankan mengalami perlambatan laju. Per September 2026, total DPK terkumpul sebesar Rp 10.492 triliun atau tumbuh 8,22 persen (yoy), lebih rendah ketimbang realisasi Agustus 2026 sebesar 10,94 persen. Giro menjadi penopang utama DPK dengan kenaikan 12,64 persen, disusul tabungan 9,08 persen, serta deposito 3,78 persen.

Meski pertumbuhan DPK mengendur, OJK menjamin ketahanan likuiditas perbankan nasional tetap tergolong solid. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit (AL/NCD) menguat ke level 105,7 persen dari 102,3 persen. Begitu pula rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) yang merangkak naik menjadi 24,1 persen. Kedua rasio tersebut melampaui batas aman minimum masing-masing 50 persen dan 10 persen.

Adapun liquidity coverage ratio (LCR) berada di posisi 181,91 persen. Kualitas aset perbankan juga menunjukkan perbaikan manajemen risiko, di mana rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross turun menjadi 2,07 persen dan NPL net berada di posisi 0,82 persen.

Profitabilitas perbankan tecermin stabil melalui return on assets (ROA) sebesar 2,43 persen. Sementara itu, ketahanan permodalan nasional tetap sangat kukuh dengan capital adequacy ratio (CAR) di level 24,30 persen.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini