Intime – Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa (21/7), meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar kini mencermati potensi gangguan terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang dapat memicu gejolak pasokan energi global.
Mengutip Investing, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,38 dolar AS atau 0,43% menjadi 88,57 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 0,30 dolar AS atau 0,36% ke level 82,20 dolar AS per barel.
Menurut Bloomberg, Presiden AS Donald Trump berjanji akan melancarkan serangan terhadap Teheran sebagai respons atas tewasnya tentara Amerika. Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran mengancam memberlakukan larangan lalu lintas maritim dari Arab Saudi, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Laut Merah.
Merespons ancaman tersebut, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya sesuai hukum internasional.
“Jika terjadi gangguan pada infrastruktur, khususnya jalur pelayaran, maka hal itu dapat menyebabkan lonjakan harga minyak. Persediaan sedikit berkurang, jadi tidak banyak ruang untuk melakukan kesalahan,” kata Manajer Portofolio Senior Tortoise Capital LLC, Rob Thummel.
Eskalasi terbaru terjadi setelah serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania yang menewaskan sedikitnya dua tentara Amerika dan melukai sejumlah lainnya. Sebagai balasan, militer AS dilaporkan memperluas serangan ke sejumlah target di Iran, sementara Teheran juga meningkatkan serangan terhadap negara-negara Teluk.
Pertempuran kini berpusat di sekitar Selat Hormuz, jalur vital yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi militernya bertujuan melemahkan kemampuan Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal di kawasan tersebut.
Memanasnya kembali konflik ini menjadi eskalasi terburuk antara AS dan Iran sejak gencatan senjata pada April lalu, sekaligus memperkecil peluang dimulainya kembali perundingan damai antara kedua negara.

