PBNU Diharapkan Kembali Perkuat Marwah Keilmuan NU di Muktamar 2026

Intime – Pengamat sosial politik Prof. Fachry Ali mengingatkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama agar kembali pada tradisi keilmuan para pendiri NU menjelang Muktamar ke-35 tahun ini. Menurutnya, posisi Syuriyah harus diisi ulama dengan otoritas agama dan kapasitas keilmuan yang lebih tinggi dibanding jajaran Tanfidziyah.

Fachry menilai dinamika di tubuh NU kini mengalami perubahan besar. Peningkatan pendidikan warga nahdliyin membuat publik internal NU semakin kritis dalam menilai arah organisasi dan kualitas kepemimpinan.

“Sekarang warga NU semakin rasional dalam melihat kinerja organisasinya sendiri. Karena itu elite PBNU juga harus mengalami pendalaman kualitas keilmuan,” ujar Fachry, Rabu (13/5).

Ia menekankan, NU membutuhkan figur-figur elite yang bukan hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga memiliki legitimasi intelektual dan keagamaan yang diakui luas, termasuk di tingkat internasional.

Menurut Fachry, kondisi akan menjadi problematis jika posisi Tanfidziyah justru dianggap lebih dominan dibanding Syuriyah. Padahal dalam tradisi NU, Syuriyah merupakan otoritas tertinggi dalam aspek keagamaan.

“Kalau Tanfidziyah diisi tokoh dengan pengetahuan luas dan reputasi internasional, maka Syuriyah harus berada di atasnya dalam ilmu agama, keimanan, dan otoritas keulamaan,” katanya.

Fachry kemudian menyinggung sosok almarhum KH Sahal Mahfudz sebagai representasi ideal Rois Syuriyah. Ia juga menyebut Said Aqil Siradj sebagai figur dengan kedalaman ilmu agama dan otoritas kuat karena latar pendidikan pesantren hingga jenjang profesor di Arab Saudi.

“Saya menunjuk Kang Aqil Siradj. Ilmu keagamaannya sangat tinggi dan otoritas keagamaannya kuat. Di situlah dilema PBNU jika Tanfidziyah dianggap lebih tinggi daripada Syuriyah,” jelasnya.

Fachry berharap Muktamar NU tahun ini mampu melahirkan kepemimpinan berkualitas sekaligus mengembalikan marwah NU sebagai kekuatan civil society yang mandiri.

“Hasil muktamar harus mencerminkan bahwa NU mampu mengorganisasi dirinya sendiri, independen secara finansial, politik, maupun intelektual dari negara dan kekuatan apa pun,” tandasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini