Perkuat Industri Tekstil RI, Prabowo akan Atasi Impor Ilegal hingga Buka Lapangan Kerja

Intime – Presiden Prabowo Subianto terus berupaya memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Sebab, sektor ini tak hanya penting dalam mendorong perekonomian, tetapi juga menyerap tenaga kerja.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri TPT sangat penting karena mencakup sektor dari hulu hingga hilir. Karena itu, sektor tersebut perlu semakin diperkuat demi menjaga keberlanjutan industri di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Airlangga merinci, saat ini sumbangan industri TPT terhadap perekonomian sebesar 0,97 persen. Sementara itu, tenaga kerjanya tercatat sekitar 4 juta orang dan nilai ekspornya mencapai USD 12 miliar.

“Kemudian ini menjadi salah satu sektor padat yang strategis dan dalam arahan tadi terhadap Pak Presiden, kita sampaikan bahwa TPT ini tumbuhnya di atas pertumbuhan ekonomi, yaitu 5,6 persen,” ujar Airlangga dalam keterangannya di Istana Negara, Rabu (23/9).

Oleh sebab itu, Presiden Prabowo meminta agar sektor TPT diperkuat. Caranya dengan mengatasi berbagai permasalahan yang selama ini menghambat kinerjanya.

“Kemudian khusus persoalan yang dihadapi oleh tekstil, produk tekstil itu salah satunya adalah tentunya harmonisasi tarif dari hulu ke hilir. Karena di hulu kemarin ada beberapa tanggapan dari industri garmen terkait dengan biaya masuk antidumping,” katanya.

Menurutnya, apabila permasalahan ini bisa diselesaikan, industri TPT bisa memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

“Kita melihat bahwa utilisasi daripada pabrik tekstil itu masih sekitar 75 persen, sehingga masih ada ruang untuk melakukan ekspansi,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga akan membedakan industri TPT berdasarkan sektornya, seperti tekstil, pakaian, kulit, hingga alas kaki. Tujuannya untuk lebih mudah memetakan sektor mana yang paling membutuhkan penanganan dari pemerintah.

Misalnya, berdasarkan catatan pemerintah, neraca dagang tekstil bahan baku masih defisit. Sebab, impornya sebesar USD 8,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan ekspornya yang hanya USD 3,1 miliar.

Sementara itu, neraca dagang tekstil pakaian tercatat surplus. Ekspornya sebesar USD 8,7 miliar, jauh di atas impor yang sebesar USD 690 juta.

“Nah, tadi ada beberapa catatan terkait dengan hambatan. Yang pertama tentu terkait dengan kemudahan bahan baku untuk masuk. Bapak Presiden tadi meminta kita untuk mereview terkait dengan pertek dan yang lain,” jelasnya.

Kemudian, terkait hambatan di hilir, pemerintah akan mengatasi impor ilegal yang membanjiri pasar dalam negeri. Prabowo, kata Airlangga, sudah meminta Kementerian Keuangan untuk segera menertibkan hal tersebut.

“Itu tadi juga diminta Pak Dirjen Bea Cukai untuk segera ditertibkan. Karena hal ini sangat mengganggu produsen-produsen garmen di dalam negeri,” terangnya.

Di sisi investasi, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P Roeslani menyebutkan akan memberikan arahan kepada perbankan, terutama Himbara, agar memudahkan pelaku usaha TPT mendapatkan pinjaman.

“Agar Bank Himbara dan juga bank nasional lainnya memberikan pinjaman, terutama dalam rangka perbaikan mesin-mesin yang sudah cukup tua. Karena memang kita bicara masalah daya saing atau competitiveness dari produk tekstil garmen kita mungkin yang agak ketinggalan,” jelas Rosan.

Tak hanya itu, pemerintah juga berencana memberikan tax holiday dan tax allowance yang selama ini sudah ada kepada jenis investasi baru.

“Nah ini untuk tekstil akan dikonsider untuk diberikan kembali tax holiday. Ya itu salah satunya dan kami di Danantara juga akan menyiapkan satu daerah khusus untuk integrasi dari hulu ke hilir agar lebih efisien dengan menggunakan teknologi yang baik dan benar untuk membuat produk-produk kita juga mempunyai daya saing yang lebih baik,” pungkasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini