Intime – Direktur Gerakan Perubahan Muslim Arbi menilai ada upaya mendelegitimasi Presiden Prabowo Subianto setelah pernyataannya mengenai penghasilan pengupas bawang viral dan menjadi perbincangan di media sosial.
Dalam pidato kenegaraan, Prabowo menyebut seorang pengupas bawang bernama Susanah memiliki penghasilan yang disebut mencapai Rp 700 ribu per kilogram. Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan publik.
Muslim mempertanyakan apakah sorotan tersebut merupakan bagian dari skenario untuk mendelegitimasi Prabowo.
“Pidato Presiden yang sebut Susanah pengupas bawang yang gajinya Rp 700 ribu per kg itu – apa- bisa dianggap sebagai bagian dari skenario mendelegitimasi Presiden Prabowo?” kata Muslim dalam keterangan tertulis, Kamis (20/8).
Muslim menduga terdapat kekuatan tertentu yang merasa khawatir apabila pemerintahan Prabowo mampu menunjukkan capaian positif dalam dua tahun kepemimpinannya.
Ia menyebut pihak tersebut dengan istilah “londo ireng”. Menurutnya, kelompok itu melakukan berbagai upaya untuk membangun persepsi negatif terhadap Presiden.
“Nampaknya beberapa kekuatan destruktif yang disinyalir beberapa tokoh belakangan ini sangat panik dan ketakutan jika Presiden Prabowo semakin menunjukkan pencapain kerja pemerintahan dalam 2 tahun ini,” ujarnya.
Muslim kemudian menuding pihak yang disebutnya sebagai konglomerat hitam dan para anteknya berada di balik upaya mendelegitimasi Prabowo.
Ia menilai berbagai upaya tersebut dilakukan dengan cara yang menurutnya tidak masuk akal dan justru mengundang kritik balik.
“Bagi yang berakal sehat dan waras. Semakin geli menyaksikan drama segelintir orang-orang itu,” kata Muslim.
Muslim tidak menjelaskan secara rinci siapa pihak yang disebutnya sebagai konglomerat hitam maupun apa bukti keterlibatan mereka dalam isu tersebut.
Ia hanya menyampaikan dugaan bahwa perdebatan mengenai pernyataan Prabowo merupakan bagian dari dinamika politik yang perlu dicermati.
Sementara itu, pernyataan mengenai penghasilan pengupas bawang menjadi salah satu bagian pidato Prabowo yang ramai dibahas publik. Perdebatan terutama berkembang melalui media sosial.
Muslim meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dinilainya bertujuan mendiskreditkan pemerintah. Ia berharap masyarakat menilai kinerja pemerintahan berdasarkan capaian dan kebijakan yang telah dijalankan.

