Intime – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (4/6) pagi, rupiah melemah hingga berada di level Rp 18.021 per dolar AS.
Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir dan membawa mata uang Garuda menembus ambang psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi menguatnya dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” kata Lukman, Kamis (4/6).
Selain faktor geopolitik, dolar AS juga mendapat dukungan dari data ekonomi Amerika Serikat yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Data ketenagakerjaan AS serta indeks aktivitas sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan performa ekonomi yang masih kuat.
Kondisi itu mendorong optimisme investor terhadap ekonomi AS dan meningkatkan permintaan terhadap dolar. Akibatnya, sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, ikut tertekan.
Tak hanya faktor eksternal, Lukman menilai sentimen domestik yang masih lemah juga membuat rupiah sulit bangkit. Menurut dia, pasar masih mencermati berbagai perkembangan ekonomi dalam negeri yang belum cukup memberikan dorongan positif bagi pergerakan rupiah.
Meski begitu, Lukman memperkirakan pelemahan rupiah dapat tertahan oleh langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI). Apalagi posisi rupiah kini kembali mendekati level psikologis baru yang dinilai cukup krusial.
“Sentimen domestik yang masih buruk, namun kembali mendekati level psikologi baru, kemungkinan Bank Indonesia akan mengintervensi secara agresif,” ujarnya.
Sebelumnya, BI menegaskan akan terus berada di pasar dan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memastikan kecukupan likuiditas valuta asing.
Untuk jangka pendek, Lukman memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif di rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS seiring tingginya ketidakpastian pasar global.

