Intime – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Jumat (12/6) pagi. Mata uang Garuda naik 59 poin atau 0,33% ke level Rp17.930 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.989 per dolar AS.
Penguatan rupiah tersebut menunjukkan adanya perbaikan sentimen pasar terhadap aset-aset berisiko di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian. Pergerakan positif rupiah juga mengindikasikan mulai meredanya tekanan terhadap mata uang domestik setelah beberapa waktu berada di bawah tekanan penguatan dolar AS.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan rupiah, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed), perkembangan inflasi global, hingga tensi geopolitik yang dapat memicu arus modal keluar dari negara berkembang.
Dari sisi domestik, stabilitas inflasi, prospek pertumbuhan ekonomi, serta kebijakan moneter Bank Indonesia tetap menjadi faktor penting yang menopang kepercayaan investor terhadap rupiah.
Analis menilai penguatan rupiah pada awal perdagangan menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan nasional. Namun, volatilitas masih berpotensi terjadi seiring tingginya sensitivitas pasar terhadap berbagai data ekonomi global yang akan dirilis dalam waktu dekat.

