Intime – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (29/5) pagi bergerak menguat tipis di tengah tekanan ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan domestik. Rupiah tercatat menguat 32 poin atau 0,18 persen menjadi Rp17.814 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.846 per dolar AS.
Penguatan mata uang Garuda terjadi setelah pelaku pasar mulai melakukan aksi beli terhadap aset berisiko usai tekanan dolar AS sedikit mereda dalam perdagangan global. Meski demikian, posisi rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS menunjukkan sentimen pasar terhadap ekonomi domestik belum sepenuhnya pulih.
Analis menilai pergerakan rupiah saat ini masih sangat rentan terhadap gejolak eksternal, terutama terkait arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, kenaikan harga energi global, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia.
Di sisi lain, kebutuhan impor energi yang tinggi serta arus keluar modal asing masih menjadi faktor penekan bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut membuat ruang penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas kurs di tengah tekanan global yang belum mereda. Intervensi di pasar valas dan kebijakan moneter dinilai akan menjadi faktor penting untuk menahan pelemahan rupiah lebih dalam.
Meski menguat pada perdagangan pagi ini, nilai tukar rupiah masih berada jauh di atas level psikologis Rp17.000 per dolar AS, mencerminkan tekanan besar yang masih dihadapi perekonomian nasional.

