Rupiah Pecah Rekor Rp18.044 per Dolar, BI Masih Tunjuk Timur Tengah sebagai Biang Kerok

Intime Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor terburuk sepanjang sejarah setelah menyentuh level Rp18.044 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6). Di tengah tekanan yang semakin dalam, Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan rupiah masih didominasi faktor eksternal, terutama memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Berdasar data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 77 poin atau 0,43% ke level Rp18.044 per dolar AS. Posisi tersebut menjadi titik terendah yang pernah dicapai mata uang Garuda.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan, eskalasi konflik di Timur Tengah telah memperburuk ketidakpastian global dan menghambat prospek perdamaian. Kondisi tersebut membuat harga minyak dunia bertahan tinggi sekaligus meningkatkan risiko inflasi global.

“Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging,” kata Destry, Kamis (4/6).

Menurut BI, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari luar negeri. Permintaan valas domestik juga masih tinggi, terutama untuk kebutuhan repatriasi dividen perusahaan dan pembayaran utang luar negeri.

“Kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran utang luar negeri,” ujarnya.

Meski rupiah berada di level terlemah sepanjang sejarah, BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menahan gejolak yang terjadi. Bank sentral menegaskan intervensi dilakukan secara agresif melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

“Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten,” kata Destry.

Selain intervensi pasar, BI juga berupaya menjaga daya tarik aset keuangan domestik melalui pengelolaan instrumen moneter yang lebih pro-pasar guna menarik kembali aliran modal asing.

Bank sentral juga memperluas penggunaan skema local currency transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Hingga April 2026, nilai transaksi LCT telah mencapai US$22,7 miliar, hampir menyamai realisasi sepanjang 2025 yang sebesar US$25,7 miliar.

Meski rupiah telah melemah sekitar 7,44 persen sejak awal tahun, BI menilai ketahanan eksternal Indonesia masih relatif kuat. Keyakinan tersebut ditopang cadangan devisa yang mencapai US$146,2 miliar pada akhir April 2026.

Namun di tengah rekor pelemahan rupiah, penjelasan BI yang masih menitikberatkan faktor eksternal berpotensi memicu perdebatan. Pasalnya, sebagian pelaku pasar mulai menyoroti faktor domestik seperti arah fiskal, kebutuhan pembiayaan pemerintah, hingga meningkatnya persepsi risiko terhadap ekonomi Indonesia sebagai penyebab tekanan rupiah yang lebih dalam dibanding sejumlah mata uang Asia lainnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini