Saat Rupiah Pecah Rekor Rp18.044, Purbaya Lempar Bola ke Bank Indonesia

Intime – Di tengah rupiah yang terperosok ke level terlemah sepanjang sejarah. Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, justru menegaskan bahwa urusan stabilitas nilai tukar sepenuhnya berada di tangan Bank Indonesia (BI).

Saat ditanya mengenai kemungkinan digelarnya rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) setelah rupiah menembus Rp18.044 per dolar AS, Purbaya mengaku belum melihat adanya kondisi yang mengharuskan pemerintah mengambil langkah tersebut.

“Nanti Anda ngelihat saya panik. Pada dasarnya BI masih menjalankan kegiatan dengan baik dan semuanya masih di bawah kendali mereka. Saya serahkan rupiah ke mereka,” kata Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (4/6).

Pernyataan itu muncul ketika rupiah berdasarkan data Bloomberg melemah 77 poin atau 0,43 persen ke level Rp18.044 per dolar AS, posisi terburuk sepanjang sejarah.

Meski menyerahkan pengelolaan kurs kepada BI, Purbaya mengakui pelemahan rupiah tetap berdampak terhadap keuangan negara, terutama pada pembayaran kewajiban utang luar negeri.

“Kuponnya sih konstan. Cuma pada waktu rupiah melemah, pembayaran dalam rupiah tentu ikut meningkat,” ujarnya.

Namun, Purbaya buru-buru memastikan kondisi tersebut tidak akan mengguncang APBN. Menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi berbagai skenario pelemahan rupiah sejak awal penyusunan anggaran.

“Waktu APBN disusun memang asumsi kursnya Rp16.500 per dolar AS. Tapi kami juga melakukan berbagai simulasi terhadap perubahan kondisi ekonomi, termasuk pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi,” katanya.

Purbaya bahkan menegaskan fundamental rupiah sebenarnya lebih kuat dibanding posisi yang tercermin di pasar saat ini.

“Fundamental rupiah berada di bawah level yang sekarang, lebih kuat dari yang sekarang,”ujarnya.

Di sisi lain, ia mengungkapkan pemerintah telah turun tangan menjaga pasar keuangan melalui intervensi di pasar obligasi negara. Nilai intervensi yang dilakukan disebut mencapai lebih dari Rp8 triliun.

“Mungkin Rp8 triliun lebih yang di obligasi. Jadi dampaknya ada ke surat utang kita,” kata Purbaya.

Pernyataan Menkeu tersebut memunculkan sorotan karena disampaikan saat rupiah sedang berada di titik terlemah sepanjang sejarah. Alih-alih memberi sinyal langkah luar biasa, pemerintah justru menegaskan bahwa kondisi masih terkendali dan menyerahkan stabilitas nilai tukar kepada Bank Indonesia.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini