Intime – Pelemahan rupiah kembali menjadi sorotan setelah pada perdagangan Kamis (4/6) mata uang Garuda sempat menembus level psikologis baru di kisaran Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS, bahkan menyentuh sekitar Rp18.003 pada sesi pagi. Tekanan ini menandai salah satu level terlemah rupiah dalam periode perdagangan terbaru, sekaligus mempertegas meningkatnya tekanan terhadap stabilitas nilai tukar domestik.
Di saat bersamaan, pasar saham juga berada dalam tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)bergerak fluktuatif di rentang 5.800 hingga 5.900-an, setelah sebelumnya sempat terkoreksi hingga hampir 5% dalam satu sesi perdagangan pada awal Juni 2026. Tekanan berasal dari arus keluar modal asing, sentimen global yang cenderung risk-off, serta kekhawatiran terhadap pelemahan nilai tukar rupiah.
Meski pemerintah masih menekankan fundamental ekonomi relatif solid, kondisi pasar menunjukkan sebaliknya: rupiah melemah tajam, IHSG bergejolak, dan investor asing cenderung mengurangi eksposur terhadap aset Indonesia.
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai kondisi ini tidak bisa dilihat secara hitam putih. Ia menyebut pelemahan rupiah memang masih memberikan keuntungan bagi sektor berbasis ekspor, terutama komoditas.
“Perusahaan kelapa sawit, batu bara, nikel, perikanan, kakao, hingga kopi memperoleh pendapatan dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya mereka dalam rupiah. Ketika dolar menguat, keuntungan dalam rupiah otomatis meningkat,” ujarnya dalam keterangannya kepada Intime, Kamis (4/6).
Namun ia menegaskan, keuntungan tersebut hanya dinikmati kelompok usaha tertentu dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi secara menyeluruh. Data pasar menunjukkan bahwa pelemahan rupiah kali ini tidak diikuti penguatan fundamental yang merata di sektor riil.
“Keuntungan eksportir sering terkonsentrasi pada korporasi besar. Sementara dampak negatifnya tersebar luas ke konsumen, pekerja, UMKM, industri kecil, hingga tekanan pada APBN akibat biaya impor dan pembiayaan utang,” kata Achmad.
Menurutnya, narasi bahwa rupiah lemah merupakan “berkah ekspor” merupakan penyederhanaan yang menyesatkan. Ia menilai kondisi tersebut hanya menguntungkan jika struktur industri nasional kuat dan memiliki keterkaitan luas dengan ekonomi domestik.
“Rupiah lemah hanya bisa menjadi berkah jika industri dalam negeri kuat, kandungan lokal tinggi, dan rantai pasoknya terintegrasi. Jika tidak, yang terjadi justru ketimpangan: sebagian kecil menikmati keuntungan, sementara mayoritas menanggung beban,” tegasnya.
Dengan rupiah yang telah menembus area Rp18 ribu dan IHSG yang masih rentan terkoreksi, pertanyaan mendasar kembali muncul: apakah ekonomi Indonesia benar-benar menguat, atau justru sedang tumbuh di atas fondasi yang rapuh dan tidak merata?

