Intime – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mencatat fenomena tak biasa usai Lebaran 2026. Jumlah warga yang pindah keluar Jakarta mencapai 22.617 orang—hampir dua kali lipat dibanding pendatang baru yang hanya 12.766 orang.
Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, menjelaskan lonjakan ini dipengaruhi penertiban administrasi kependudukan sesuai domisili.
“Banyak warga yang sudah lama tinggal di Bodetabek masih pakai KTP Jakarta. Sekarang mereka menyesuaikan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (5/5).
Ia menegaskan, kondisi ini bukan berarti Jakarta kehilangan pesona, melainkan terjadi perubahan pola tempat tinggal dan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Ini bukan soal daya tarik Jakarta menurun, tapi pergeseran pola hunian,” kata Denny.
Selain faktor administrasi, tingginya biaya hidup di Jakarta juga mendorong warga berpindah ke kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Di sisi lain, munculnya pusat ekonomi baru di wilayah tersebut membuat perpindahan semakin masif.
Faktor kualitas hidup turut berperan, mulai dari polusi udara, kemacetan, hingga risiko banjir. Banyak warga kini mencari lingkungan yang lebih nyaman, namun tetap terhubung dengan transportasi publik seperti LRT, MRT, dan KRL.
Data Dukcapil menunjukkan, mayoritas warga yang pindah adalah usia produktif 71,57% berpenghasilan rendah 64,53%, dengan alasan utama perumahan 33,92%.
Sementara itu, tren pendatang baru justru menurun dalam beberapa tahun terakhir.
“Dulu di atas 20 ribu, sekarang turun jadi sekitar 12 ribu,” ungkapnya.
Program penataan dokumen kependudukan yang diatur dalam UU Nomor 2 Tahun 2024 disebut menjadi langkah untuk mengatasi perbedaan data antara penduduk administratif dan kondisi riil di lapangan.
Selain itu, Dukcapil juga mencatat 5.499 orang sebagai penduduk nonpermanen, yakni warga luar Jakarta yang tinggal sementara untuk keperluan tertentu.
“Penduduk nonpermanen yang terdata saat ini 5.499 jiwa,” pungkas Denny.

