BI Naikkan Suku Bunga, Ekonom Nilai Rupiah Tetap Tertekan karena Masalah Lebih Dalam

Intime – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,50% dinilai belum cukup untuk mengangkat rupiah keluar dari tekanan. Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai pelemahan mata uang nasional saat ini dipicu persoalan struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan instrumen suku bunga.

“Masalah rupiah hari ini bukan sekadar soal kurang menariknya imbal hasil aset rupiah. Masalahnya lebih dalam, yakni turunnya kepercayaan pasar terhadap kesinambungan fiskal, meningkatnya kebutuhan valuta asing, tekanan harga energi global, serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi nasional,” kata Achmad, Selasa (9/6).

Bank Indonesia pada 9 Juni 2026 menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Langkah itu diambil setelah sebelumnya BI menaikkan suku bunga 50 basis poin pada Mei lalu, sehingga total kenaikan dalam kurang dari satu bulan mencapai 75 basis poin.

Menurut Achmad, secara teori kenaikan suku bunga memang bertujuan menarik kembali aliran modal asing ke instrumen berdenominasi rupiah. Namun, kondisi saat ini menunjukkan pasar tidak hanya mempertimbangkan tingkat imbal hasil, melainkan juga risiko ekonomi yang lebih luas.

“Dalam situasi sekarang, pasar tidak hanya menghitung bunga, tetapi juga risiko. Kenaikan suku bunga memang bisa memberi jeda psikologis, tetapi belum cukup mengubah arah dasar tekanan rupiah,” ujarnya.

Ia mengibaratkan kebijakan suku bunga seperti rem mobil yang hanya mampu memperlambat laju kendaraan, tetapi tidak memperbaiki kerusakan jalan yang menjadi sumber masalah.

“Jika tekanan datang dari defisit transaksi berjalan, arus modal keluar, beban subsidi energi, dan persepsi fiskal yang memburuk, maka suku bunga tinggi hanya menjadi pengganjal sementara,” katanya.

Achmad menyoroti defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 4 miliar dolar AS atau 1,09% dari PDB, lebih tinggi dibandingkan kuartal sebelumnya. Di saat yang sama, cadangan devisa juga turun dari 146,2 miliar dolar AS pada April menjadi 144,9 miliar dolar AS pada akhir Mei 2026.

“Ketika cadangan devisa berkurang, bunga dinaikkan, dan sentimen belum pulih, maka yang muncul bukan keyakinan kuat, melainkan kesan bahwa otoritas sedang mengejar tekanan yang bergerak lebih cepat,” tutur Achmad.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini