Intime – Mantan anggota DPR RI Didi Irawadi Syamsuddin menilai aksi demonstrasi yang digelar mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jabodetabek merupakan bentuk kecintaan terhadap Indonesia. Menurutnya, mahasiswa yang turun ke jalan tidak sedang memusuhi negara.
“Mahasiswa turun ke jalan bukan karena mereka membenci negeri ini. Justru karena mereka terlalu mencintainya,” kata Didi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (12/6).
Didi memandang suara mahasiswa harus dipahami sebagai alarm bahwa terdapat sejumlah persoalan yang tengah dihadapi bangsa. Ia menyinggung kondisi ekonomi yang dinilai semakin menekan masyarakat.
Menurutnya, harga kebutuhan pokok yang terus naik, biaya hidup yang semakin berat, menyusutnya lapangan pekerjaan, serta gelombang PHK menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan.
“Aksi damai bukan ancaman bagi demokrasi. Yang lebih berbahaya justru ketika kritik dibungkam dan kekuasaan hanya mau mendengar tepuk tangan,” ujarnya.
Didi juga menyoroti sejumlah program besar pemerintah yang menghabiskan anggaran hingga ratusan triliun rupiah. Ia mempertanyakan sejauh mana kebijakan tersebut telah memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, ia menyinggung kondisi nilai tukar rupiah, pasar saham, dan daya beli masyarakat yang dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah.
“Mengapa nilai rupiah melemah, pasar saham kehilangan kepercayaan, dan daya beli masyarakat terus tergerus?” kata Didi.
Menurutnya, pemerintah sebaiknya menjawab berbagai kritik yang muncul dengan argumentasi yang rasional. Ia mengingatkan bahwa demokrasi dapat mengalami kemunduran apabila kritik direspons dengan kemarahan.
“Sejarah membuktikan bahwa bangsa besar tidak lahir dari budaya ABS dan puja-puji kekuasaan,” ujarnya.
Sebelumnya, ribuan mahasiswa dijadwalkan menggelar aksi di sejumlah lokasi di Jakarta pada Jumat (12/6).
BEM SI bersama Koalisi Masyarakat Sipil menggelar aksi di depan Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Sementara Dema UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama elemen mahasiswa lainnya menggelar aksi di kawasan Monas, Jakarta Pusat.
Aksi tersebut ramai dikaitkan dengan narasi “Reformasi Jilid II” yang beredar di media sosial.

