Petuah Jokowi Dianggap Sen Kanan tapi Belok Kiri

Intime – Mantan Presiden Joko Widodo mengungkap tiga falsafah Jawa yang disebut menjadi pedomannya dalam kehidupan, termasuk saat memimpin Indonesia. Petuah tersebut disampaikan Jokowi dalam acara di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah.

Jokowi menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali pada Sabtu (29/8/2026). Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan tiga falsafah Jawa.

Pertama, “lamun sira sekti, ojo mateni”. Artinya, meski memiliki kesaktian atau kekuasaan, seseorang tidak boleh menjatuhkan orang lain.

Kedua, “lamun siro banter, ojo ndhisiki”. Artinya, meski mampu bergerak cepat, seseorang tidak harus selalu mendahului.

Ketiga, “lamun sira pinter, ojo minteri”. Artinya, meski pintar, seseorang tidak boleh merasa paling pintar atau bersikap sok pintar.

Pengamat politik Adi Prayitno menilai ketiga petuah tersebut sebenarnya merupakan pesan normatif yang relevan bagi siapa pun, terutama orang yang memiliki kekuasaan.

“Petuah ini sifatnya normatif dan saya kira ini adalah nilai-nilai yang memang harus dipegang oleh siapa pun ketika memiliki kekuasaan,” kata Adi melalui kanal YouTube miliknya, Rabu (2/9).

Namun, Adi mengatakan pesan tersebut akan selalu dikaitkan dengan rekam jejak politik Jokowi selama menjadi presiden.

Menurutnya, berbagai kontroversi yang mengiringi pemerintahan Jokowi pada 2014-2024 membuat setiap pesan moral yang disampaikannya berpotensi memunculkan kembali perdebatan.

“Banyak sekali kebijakan-kebijakan politik Jokowi yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Bahkan banyak sekali pihak yang menuding bahwa justru Jokowi tidak mau berhenti untuk dua periode menjadi presiden,” ujarnya.

Adi menyinggung sejumlah isu yang pernah mencuat, seperti wacana masa jabatan presiden tiga periode dan penundaan Pemilu. Dukungan Jokowi kepada Gibran Rakabuming Raka untuk maju sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024 juga disebutnya membuat sebagian pihak menilai Jokowi masih berupaya mempertahankan pengaruh politik.

“Kalau bicara tentang Jokowi pasti panjang kali lebar terjadi kontroversi dan perdebatan yang tidak berkesudahan. Ada yang pro dan kontra,” tuturnya.

Adi menilai perhatian publik terhadap Jokowi juga belum surut setelah dia tidak lagi menjabat presiden. Aktivitas politiknya di Solo, termasuk safari politik bersama PSI, turut menjadi sorotan.

“Publik melihat per hari ini begitu banyak hal-hal yang disampaikan oleh Jokowi dianggap sen kanan tapi belok kiri,” pungkasnya.

Artikel Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indonesia Terkini