Intime – Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, pekan lalu. Dalam aksi tersebut, mahasiswa mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah.
Aksi yang diikuti perwakilan mahasiswa dari Semarang dan Surakarta itu diwarnai dengan berbagai simbol protes. Massa membawa spanduk bertuliskan “RIP. Rupiah Sekarat” dan “Turut Berdukacita atas Matinya Rupiah” sebagai bentuk kritik terhadap kondisi ekonomi nasional.
Mahasiswa juga melakukan aksi simbolik berupa pembakaran uang mainan di atas spanduk, tabur bunga, hingga penyegelan pintu masuk kantor BI dengan pita hitam-kuning dan spanduk.
Presiden Mahasiswa Politeknik Negeri Semarang, Kevin Priambodo, mengatakan aksi tersebut lahir dari keresahan terhadap pelemahan rupiah yang dinilai belum ditangani secara serius oleh pemerintah.
“Kami resah melihat kondisi ekonomi yang sedang terjadi. Kebijakan fiskal yang digagas dan sikap yang diambil pemerintah seolah-olah menunjukkan tidak ada masalah,” ujar Kevin.
Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo perlu segera merumuskan kebijakan yang mampu memperkuat rupiah dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Mahasiswa juga menyoroti potensi dampak lanjutan terhadap masyarakat apabila tekanan terhadap APBN semakin besar. Mereka khawatir subsidi bahan bakar minyak yang selama ini menjaga harga tetap stabil akan terganggu dan berujung pada kenaikan harga kebutuhan pokok.
Ketua BEM Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, M. Kailani Rizqi Pratama, mengatakan BEM SI Jawa Tengah memberikan tenggat waktu selama 18 hari kepada pemerintah untuk menunjukkan langkah nyata.
Selama periode tersebut, mahasiswa berencana melakukan diskusi dan edukasi kepada masyarakat terkait risiko ekonomi yang dapat terjadi, termasuk potensi pelemahan rupiah yang lebih dalam.
“Apabila tuntutan itu tidak dipenuhi, mahasiswa mempertimbangkan menggelar demonstrasi besar-besaran bertajuk Reformasi Jilid 2,” kata Kailani.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa mahasiswa tidak berharap situasi tersebut terjadi. Menurutnya, langkah tersebut akan ditempuh apabila kondisi ekonomi tidak menunjukkan perbaikan dan pemerintah dinilai tidak merespons aspirasi yang disampaikan.

