Intime – Sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 akhirnya dibebaskan setelah sempat ditahan militer Israel saat berlayar menuju Gaza, Palestina. Salah satu relawan yang mengalami peristiwa tersebut adalah aktivis kemanusiaan dari Dompet Dhuafa, Ronggo Wirasanu.
Kisah penahanan itu menjadi perhatian publik setelah video SOS para relawan beredar luas di media sosial. Dalam video tersebut, para peserta misi menyampaikan bahwa jika rekaman itu dipublikasikan, berarti mereka telah ditangkap oleh militer Israel.
Ronggo menjelaskan, video SOS tersebut memang merupakan bagian dari prosedur yang telah disiapkan oleh penyelenggara misi.
“Mekanismenya, jika salah satu kapal relawan dicegat Israel, GSF akan langsung mempublikasikan video SOS dari tiap delegasi untuk menarik perhatian negara asal masing-masing peserta,” ujarnya dalam podcast EdShareOn bersama Eddy Wijaya yang tayang pada 3 Juni 2026, dikuti Minggu (7/6).
Militer Israel diketahui mencegat armada GSF yang membawa ratusan relawan dari berbagai negara serta bantuan kemanusiaan berupa bahan makanan menuju Gaza pada 18 Mei 2026.
Sebelum pencegatan terjadi, armada relawan telah menghabiskan enam hingga tujuh hari berlayar di Laut Mediterania. Berbagai strategi dilakukan untuk menghindari deteksi, mulai dari berlayar dalam formasi tertentu hingga mematikan telepon seluler pada malam hari agar tidak terlacak melalui sinyal.
Upaya tersebut sempat berhasil. Namun pada siang hari, kapal kecil yang ditumpangi Ronggo bersama tujuh relawan lainnya akhirnya dicegat militer Israel. Mereka kemudian dipindahkan ke kapal militer dan ditahan.
Menurut Ronggo, para relawan mengalami tindakan kekerasan saat proses penahanan.
“Kami dipukuli, bahkan ada teman yang ditendang. Ada juga yang disetrum di banyak titik tubuhnya. Tindakan mereka sangat brutal dan sulit dipahami,” katanya.
Setelah itu, para relawan ditempatkan di ruang tahanan di dalam kapal yang disebut menyerupai peti kemas terbuka. Di atas area tahanan tersebut, tentara Israel berjaga dengan senjata terkokang.
Ronggo mengaku sempat ditodong senjata setelah menolak minum air yang diberikan tentara Israel. Ia khawatir tindakannya akan digunakan untuk membangun citra positif militer Israel.
“Saya khawatir kalau saya minum, mereka akan memotret dan membingkai seolah-olah tentara Israel bersikap humanis kepada relawan. Padahal kenyataannya sangat berbeda,” ujarnya.
Selama masa penahanan, para relawan disebut menerima makanan dan minuman dalam kondisi yang tidak layak. Roti yang diberikan bahkan disebut sangat keras hingga dapat digunakan sebagai alas kepala oleh para tahanan.
Ronggo juga mendengar laporan mengenai dugaan pelecehan seksual terhadap tiga relawan perempuan yang berada di kapal berbeda. Setelah diturunkan di Pelabuhan Ashdod, para relawan kemudian dipindahkan ke Penjara Ketziot di Gurun Negev.
Ia menggambarkan kondisi penjara tersebut menyerupai kerangkeng dengan aroma menyengat. Salah satu sel berukuran sekitar 3×3 meter disebut diisi hingga 30 sampai 40 orang tahanan.
“Ukuran selnya semakin kecil, tetapi jumlah tahanannya justru semakin banyak,” katanya.
Ronggo hanya menghabiskan satu malam di penjara tersebut. Keesokan harinya, ia bersama relawan lain dibawa ke bandara dan dipulangkan menggunakan tiga pesawat Turkish Airlines menuju Turki.
Meski mengalami tekanan fisik dan mental selama penahanan, Ronggo menegaskan pengalaman tersebut tidak menyurutkan komitmennya untuk mendukung perjuangan kemanusiaan bagi warga Palestina.
“Saat ini masih ada sekitar 9.000 warga Palestina yang mendekam di penjara Israel dan kita tidak tahu bagaimana nasib mereka. Apa yang kami rasakan kemarin belum ada apa-apanya dibandingkan penderitaan warga Palestina yang belum tahu kapan akan berakhir,” ujarnya.
Relawan Dibekali Pelatihan Sebelum Berangkat
Ronggo mengungkapkan bahwa seluruh peserta misi GSF 2.0 terlebih dahulu mengikuti pelatihan di Turki sebelum berangkat menuju Gaza. Salah satu materi yang diberikan adalah simulasi menghadapi pencegatan oleh militer Israel.
Dalam pelatihan tersebut, relawan diingatkan untuk tidak menandatangani dokumen apa pun yang diberikan otoritas Israel.
“Kalau ditandatangani, bisa menghambat proses kepulangan kami,” katanya.
Pelatihan itu terbukti berguna ketika armada mereka benar-benar dicegat di Laut Mediterania. Ronggo mengaku sempat diberikan tiga dokumen berbahasa Ibrani, namun menolak menandatanganinya atas arahan tim hukum yang mendampingi misi tersebut.
Selain itu, para relawan juga dibekali burner phone atau telepon sekali pakai untuk keadaan darurat. Saat pencegatan terjadi, Ronggo sempat mengirim pesan dan dokumentasi situasi kepada kantornya sebelum membuang perangkat tersebut ke laut agar data penting tidak jatuh ke tangan pihak lain.
“Kami buang ke laut agar aman. Di dalamnya ada data misi, data pribadi, dan kontak keluarga yang sangat berbahaya jika bocor,” ujarnya.
GSF juga memasang kamera pengawas atau dash cam di kapal yang terhubung langsung ke pusat pemantauan di Istanbul dan disiarkan secara daring. Sebelum perangkat tersebut dihancurkan, sebagian data kondisi kapal berhasil terekam secara real time.
“Di Istanbul ada ruang pantau khusus untuk mengawasi seluruh pergerakan armada kapal ini,” kata Ronggo.

